Strategi Stock Opname dan Penyiangan Koleksi: Menjaga Relevansi Perpustakaan

Ada anggapan yang masih cukup kuat bertahan di benak sebagian masyarakat, bahkan tidak jarang di kalangan pengambil kebijakan: perpustakaan yang baik adalah perpustakaan dengan rak-rak yang penuh sesak oleh buku. Semakin banyak koleksi, semakin dianggap berhasil. Padahal, kalau ditelusuri lebih jauh, anggapan ini justru bisa jadi jebakan yang merugikan pemustaka sendiri.

Rak Penuh Bukan Indikator Keberhasilan

Masalahnya sederhana tapi sering luput dari perhatian: jumlah eksemplar yang banyak tidak otomatis berarti koleksi yang berkualitas. Buku-buku usang, informasi yang sudah tidak akurat, atau referensi yang telah lama digantikan edisi barunya, kalau terus dibiarkan memenuhi rak, sebenarnya lebih berfungsi sebagai beban ruang ketimbang aset pengetahuan yang bermanfaat.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa kualitas jauh lebih berharga dibanding sekadar kuantitas. Koleksi yang terlalu padat, dengan porsi besar berisi buku-buku yang sudah tidak relevan, justru menciptakan semacam information overload secara fisik — pemustaka jadi kesulitan menyaring mana buku yang benar-benar berguna di antara tumpukan koleksi yang sebagian besarnya sudah ketinggalan zaman. Rak yang lebih ramping tapi berisi koleksi yang benar-benar terkurasi dengan baik, pada praktiknya, jauh lebih membantu pemustaka menemukan apa yang mereka cari.

Evaluasi Koleksi dengan Metode MUSTIE

Untuk melakukan penyiangan atau weeding secara sistematis, bukan asal-asalan, pustakawan biasanya berpegang pada kriteria yang dikenal dengan akronim MUSTIE: Misleading, Ugly, Superseded, Trivial, Irrelevant, dan Elsewhere. Kerangka ini membantu memberikan alasan objektif untuk menentukan buku mana yang layak dipertahankan dan mana yang sudah waktunya ditarik dari rak.

Penerapannya bisa dilihat lewat contoh konkret. Buku-buku sains atau kedokteran yang terbit belasan tahun lalu, misalnya, besar kemungkinan sudah masuk kategori Misleading — bukan karena isinya buruk saat ditulis, tapi karena ilmunya sudah berkembang jauh dan informasi di dalamnya berpotensi menyesatkan pembaca yang mengiranya masih relevan. Di sisi lain, buku fiksi dengan kondisi fisik yang sudah robek parah, berjamur, atau berbau apek karena kelembapan, masuk kategori Ugly — bukan soal isi kontennya, tapi soal kelayakan fisik yang bisa mengganggu kenyamanan bahkan kesehatan pembaca yang memegangnya.

Stock Opname Sebagai Audit Aset

Selain penyiangan berdasarkan relevansi konten, ada kegiatan lain yang tidak kalah penting: stock opname atau inventarisasi berkala. Banyak yang mengira ini sekadar menghitung jumlah buku secara fisik satu per satu, padahal esensinya lebih dari itu — stock opname adalah proses mencocokkan data fisik di rak dengan data yang tercatat di sistem automasi perpustakaan, entah itu INLISLite, SLiMS, atau sistem lain yang dipakai institusi.

Manfaat dari audit semacam ini cukup signifikan. Pertama, ia membantu mengungkap tingkat kehilangan bahan pustaka atau loss rate, entah karena pencurian, kelalaian saat peminjaman informal, atau buku yang terselip di tempat yang salah selama bertahun-tahun. Kedua, proses ini juga jadi kesempatan untuk memulihkan data metadata yang mungkin sudah rusak atau error di server — kondisi yang cukup umum terjadi setelah sistem berjalan bertahun-tahun tanpa audit menyeluruh, di mana catatan digital dan kondisi fisik di rak perlahan mulai tidak sinkron satu sama lain.

Mengelola Buku Hasil Penyiangan secara Bijak

Pertanyaan yang sering membuat admin kebingungan setelah proses penyiangan selesai adalah: buku-buku yang sudah ditarik ini diapakan? Untuk perpustakaan daerah atau instansi pemerintah, jawabannya tidak sesederhana membuangnya begitu saja. Ada prosedur penghapusan aset milik negara yang harus diikuti, biasanya melibatkan penyusunan berita acara resmi, agar proses ini tidak menyalahi aturan administratif pengelolaan barang milik daerah yang berlaku.

Di luar aspek administratif itu, ada opsi penyaluran yang jauh lebih bermanfaat dibanding sekadar menyimpannya di gudang atau memusnahkannya. Buku-buku yang secara fisik masih layak baca, meski sudah dianggap tidak relevan lagi untuk koleksi utama instansi, bisa dihibahkan ke perpustakaan desa, panti asuhan, atau taman bacaan masyarakat yang masih sangat membutuhkan tambahan koleksi. Dengan cara ini, siklus manfaat dari setiap buku tidak benar-benar berhenti di titik penyiangan, melainkan terus berputar dan menjangkau pembaca baru di tempat lain yang mungkin justru sangat membutuhkannya.